just enjoy your life like i do guys!
Si tampan Dimas mencari kerja. Iya daku. Ternyata walau tiga gelar udah berbaris di belakang nama bukan berarti daku bisa milih pekerjaan kayak milih gorengan di depan kos. Kalo pun bisa, pisangnya dibanyakin ya Bu, kikiki. Akhirnya setelah mendapatkan perangkat perang yaitu transkrip ma ijazah *transkrip ugm amit-amit, kertas tipis banget doang jo!* daku mulai melamar-lamar ke perusahaan yang tentu saja daku sok milih, hihi. Kriteria: perusahaan besar, minimal kualifikasi S 2, diperkirakan bisa ngasi gaji gede, dan seleksi kudu di Jakarta. Kukirimlah jaring laba-laba via email, secara daku paling malas ngirim hardcopy, pertama karena boros, kedua malas, ketiga MALAS. Jadi intinya, malas boros. Duh nyari kerja kok gak niat, udah milih-milih, usaha minus! Dimas… Dimas… Pulang saja lah nak ke orangtuamu… *udah kaleee!*
Pendek cerita dalam waktu kurang dari sebulan, daku dipanggil empat perusahaan. Semuanya untuk posisi Management Trainee *posisi buruh yang bertitel nggaya, kata orang lho… kaburrr!* Yang pertama daku gak dateng tes tahap dua karena emosi sama konsultan rekrutmennya, gimana gak emosi jeng *bibir dimajuin sambil kipas-kipas: mode on* berhubung daku kehilangan catetan tanggal tesnya, daku telpon lah itu konsultan rekrutmennya, eh setiap daku telpon jawabannya beda-beda kayak pejabat. Adanya daku mutung bin kasarung. Daku gak berangkat. Tapi kubombardir perusahaan yang cari tenaga MT itu dengan keluh kesahku dengan penuh tangis air mata via email ke beberapa person, rasakan itu konsultan! Bikin emosi kok sama blogger! Hahaha… *tertawa mengerikan*
Yang kedua, daku gak dateng juga. Nah kalo ini salah daku. Karena tempat tesnya berasa di ujung dunia antah berantah *mungkin disana juga hidup badak bercula satu dan Peterpan*, daku jadi gak minat. Belum lagi daku pas buka web perusahaannya yang biasa banget, daku ilfil. Mengurung diri di kamar seharian. Menangis sambil bertopang dagu.
Yang ketiga, daku belum tes, besok-besok diceritain ya.
Yang keempat, ini yang membuat daku menjadi realistis dan sedikit gila. Dengan memasang iklan lowongan MT khusus untuk lulusan S 2 dengan IPK min. 3. 5, daku pikir ini lowongan kurang ajar. Bo! Hari gini yaaaaa masi pake standar IPK segitu! Tapi ya tetep dong daku bergabung, secara daku memenuhi kriteria *sok lu Dim!* Hihi…
Alhasil daku dipanggil untuk hadir di acara briefing mengenai progam MT itu. Kupandang wajah-wajah sekeliling. Ya ampun, ini mah wajahnya mapan-mapan semua! Ketika udah mulai briefing kepala daku mulai pusing, semua berbahasa Enggres, setiap pertanyaan kudu pake bahasa Enggres. Kue-kue menggoda di depan mata akhirnya tak tersentuh. Dan kemudian mulai lah mas-mas HRD itu berbicara, artinya kira-kira begini:
“Jadi, kami memanggil kurang lebih seratusan orang dari kriteria yang dibutuhkan. Dengan kualifikasi sesuai dengan yang kami pasang.”
*ANJRIT! Sebanyak itu kah manusia lulusan S 2 yang mencari kerja?!*
“Kemudian nanti kami bagi beberapa kelompok buat mengikuti serangkaian tes. Dari seratusan ini hanya diambil kurang lebih sepuluh.”
*ANJRIT! Sepuluh?! Bisa gak mas daku pindah daptar OB aja?*
“Dari sepuluh, nanti hanya ada yang diterima enam orang setelah masa orientasi selama setahun.”
*ANJRIT! Enam?! Mana pintu keluarnya?! Daku mau keluar sekarang! Tolonnnngggg! Save my life!*
Kemudian mas-mas ramah nan cerdas itu pun mulai cerita mengenai perusahaan yang berpusat di Belanda itu. Lalu pertanyaan puncak pun keluar,
“Oke, diantara kalian siapa yang lulusan dari Europe?”
Beberapa orang pun mengangkat tangan dengan sigap. BEBERAPA. Dan daku pun tahu, selain itu masih ada beberapa lagi lulusan luar negeri selain dari universitas di Eropa.
*ANJRIT! ANJRIT! ANJRIT! DAKU MAU PULANG! PAPAAAAA!*
Dunia memang kejam. Tak adil. Daku berfikir segitu banyaknya kah manusia yang mencari kerja? Mungkin dulu jaman di Jogja, berkompetisi mendapatkan pekerjaan part time tidak pernah begitu susahnya. Tapi mencari kerja yang bener-bener kantoran dan digaji sesuai dengan kebutuhan hidup daku yang hedon ternyata susahnya ampun-ampunan!
Yah walau daku masih menunggu pengumuman untuk ikut tes tahap selanjutnya di perusahaan terakhir ini, dan daku pun menemukan teman-teman baru yang gak kalah seru selama tes berlangsung *mendengarkan kisah tentang bos-bos mereka yang kayak tokoh antagonis di sinetron sungguh bikin hati ciut*, daku tak mau berharap banyak. Keajaiban terus-menerus? You wish Dimas. Ceriwis? Yo wessss!
Sampai suatu hari SMS dari seorang temen baik yang bekerja di perusahaan terakhir ini nongol di henponku,
“Iya Dim, kemaren yang masukin aplikasi ada 2000 orang, yang dipanggil 111. Terus tahun lalu yang masuk MT ada enam orang semuanya lulusan luar semua, taon sebelumnya lagi dari enam orang ada satu dari univ lokal, tapi ITB, hihihi.”
KUDAAAA NILLLLLL! Daku mau jadi mahasiswa lagi aja! *ngepak koper pulang ke Jogja* Tapi… jadi teringat akan pesan bokap,
“Papa kasih waktu dua bulan buat nyari kerja, kalo gak dapet yang cocok tentu harus kerja sama Papa.”
Emmm…. Bisa dicepetin gak Pa? Hihi… (*)
Kantor Check & Bechek lagi sibuk berat. Semua dikarenakan ada pembagian tugas untuk membuat liputan pemilihan puteri-puterian yang lagi hangat banget akhir-akhir ini. Mulai dari pemilihan Miss Indonesia sampai pemilihan Puteri Indonesia yang segera bakal ngadain seleksi di seluruh penjuru Indonesia. Wah sungguh menyenangkan! Sudah terbayang daku bakal mewawancarai wanita-wanita cantik yang cerdas dan berkepribadian menarik itu. Tapi semua impian segera buyar, huhu… Karena produserku bilang, daku harus mencari salah satu mantan pemenang Puteri Indonesia untuk diwawancarai, siapa ya?! Artika Sari Devi? Duh pasti si cerdas ini sibuk sekali pacaran sama si-manusia-beruntung-sekali-gak-tau-kok-bisa-sama-Artika alias Baim, atau si cantik Nadine Candrawinata aja? Emm… Daku gak tega sih, mikir Jakarta itu ibu kota atau negara saja dia masih bingung *kaburr!*. Baiklah, daku putuskan akan mewawancarai salah satu mantan Puteri Indonesia terbaik sepanjang masa, fashion icon yang menjadi panutan semua kaum hawa, dan penari yang sangat berbakat. Yes, absolutely her, the one and only Pena Melanda! Hei jangan bengong, ayo dong beri tepuk tangan yang meriah! Uhui!
*pembicaraan via handphone*
Dimas: “Mbak Pena! Dimana posisinya? Daku dah muter-muter mpe keriting nih nyariin Mbak Pena!” *bete sambil bawa-bawa kamera segede gaban*
Pena: “Aduh Dimas, tau aja rambut saya lagi keriting, hihi… Pake ijo Dimas, cari wanita paling cantik pake baju ijo di food court ini.”
Dimas: “Tapi… Disini banyak wanita cantik, dan banyak yang pake baju ijo Mbak Pena!”
*geregetan sambil tendang kursi*
Pena: “Ya ampun, jelas lah, JELAS saya yang paling cantik disini, cepetan!”
Dimas: “Iya… Iya Mbak Pena.” *celingak-celinguk*
Daku udah muter-muter sampe bego, tapi daku gak liat cewek paling cantik berbusana hijau itu. Adanya orang-orang lagi ngeliatin shemale lady yang pakaiannya ancur banget. Bayangin aja, di tengah-tengah keramaian begini, shemale lady itu pake topi anyaman Malioboro sepuluh ribuan warna ijo terang segede gorilla, dan bajunya… ampun… Pena Melanda tolonglah dia! Perpaduan baju semi bolero bergaris-garis yang bahannya diambil dari sarung bantal dan guling gak kepake, dipadu hotpants hijau tosca, sangat gak kalah ‘menantang’ untuk dikomentari. Dipinggangnya pun tak ketinggalan, rantai pinggang mungil milik si doggie yang bersedih karena harus kehilangan rantai kesayangan selamanya. Ow… Ow…
Karena penasaran daku pun mendekati mas-mas eh… mbak-mbak itu dari deket. ARGH TIDAK! Kalo Vina Panduwinata ada kumis di dadanya *inget kan lagu di dadaku ada kamu? Hihi*, nah mas eh atau mbak ini di dadanya ada sekuntum bunga bangkai! Raflesia Arnoldi is back for good… Luar biasa, pasti rakyat Bengkulu akan menangis terharu melihat bunga bangkai menjadi trend baru di ibukota.
Mataku masih tertuju padanya. Mana mungkin daku bisa berpaling dari rambut palsu keriting anehnya itu yang kayaknya dari beli udah satu paket nempel di topi *mirip sama topi anak-anak yang udah dipasang rambut kepang*. Aku pun melangkah mendekat, dan manusia unik berpakaian aneh itu pun memalingkan wajah ke arah daku, dan…
Pena: “Dimas! Kamu kemana aja?! Sudah saya tunggu dari tadi kaleee! Ayo mulai wawancaranya!”
*jantungan dan shock berat*
Dimas: “Mbak… Mbak Pena?! Jadi….?!”
Pena: “Iya… Saya cantik banget ya? Sampe semua orang ngeliatin, hihi… Saya mah dah terbiasa jadi pusat perhatian.” *kedip-kedip sambil mengulin rambut*
Dimas: *berlari-lari pake daster sambil menampar diri sendiri* (*)

Diantara lelah dan batuk yang tiada henti, daku iseng-iseng blog walking dan menemukan blognya Wiku Pulangasih dengan goresan komiknya yang unik. Tanpa dinyana daku menemukan komik berdasarkan cerita dari postingan blogku Interview with Cinta Laura tapi isinya kreativitas dari Wiku, wakaka… Keren! Makasih ya Wiku… (*)
Pernah denger kata mutiara Mulutmu Harimaumu? Nah ini salah satu contoh cerita yang masih membuat daku ingin melarikan diri ke
“Duh Mi, beneran deh tuh dosen ribet banget. Kata anak-anak masa kita harus beli buku karangan dia! Mana tiap habis beli, kita harus tanda tangan di daftar absen pula, pasti deh, yang beli ntar dapet nilai A.”
“Terus ya Mi, ibu dosen tu kan satu semester ngajarnya cuma beberapa kali doang di kelas kita. Sisanya pasti ngajar dimana-mana gitu, secara profesor kali ya. Duh pasti uangnya banyak banget tuh!”
“Duh Mi, lu ni diajak ngobrol anteng-anteng aja! Tumben.. Laper ya? Hehe… Sabar bro, ntar lagi kelas kita selesai.”
“Baik sampai disini dulu kelas kita. Jangan lupa sebelum ujian akhir tugasnya dikumpulkan di sekretariat. Selamat sore semuanya.”
“Nak Ami, kemarin sama bapak ibu jadi dateng ke nikahan di Solo? Waduh kemarin itu budhe gak bisa dateng, soalnya ada ngajar di Semarang .”
“O iya Budhe, Ami sama bapak dan ibu dateng ke nikahan yang di Solo. Rame kok Budhe.”
“O ya sudah, salam buat bapak dan ibu di rumah ya…”
Chek & Bechek Infotainment kembali! Wah kali ini tugas daku beda banget dari biasanya, entah kenapa tiba-tiba produserku ngasih tugas buat ganttin Feni Rose *si bibir keriting heboh* untuk acara talk show hunian yang kayaknya udah nongol hampir di semua stasiun TV Indonesia. Wah wah… Yang pasti, investasi ini bagaikan sebuah berlian pemirsaaaa! Hanya lima menit lho pemirsa dari hunian ke bandara! Tuh kan? Daku mah kalo cuma niru cara bawain acara ala Feni Rose, itu gampaaaaang! Tapi sapa ya developernya kali ini? *celingak-celinguk cari naskah* Oh, Wagu Sedoyo* Group (*jawa: aneh semua, red). Nama perumahannya… The Mansion at Kandang. Kandang?! Baiklah… Harus jaim, kali ini daku harus sukses jadi presenter. Mana tau abis ini ditawarin jadi presenter Silet, hihi…
Dimas: “Halo Bu Epelin, ketemu lagi deh kita.” *ketawa selebar tiga jari*
Epelin: “Betul… Betul… Mas Dimas.” *senyum jaim*
Dimas: “Jadi langsung aja ya Bu, bagaimana konsep dari The Mansion at Kandang ini?”
Epelin: “Wah wah… Bangunan ini nantinya akan menjadi The True Icon of Kandang Mas Dimas, berada di lokasi kandang yang sangat strategis, di buntut naga, kemudian fasilitasnya dasyat! Mulai dari kolam renang seukuran Kejurda, setiap pintu kandang dijaga satpam, pemandangan Jakarta yang macet gila, dan yang pasti bebas banjir.” *tertawa sumringah sampe susah mingkem*
Dimas: *saatnya hiperbola* “WAH Spektakuler! Super super komplit pemirsa! Tunggu apalagi, besok harganya naik lho! Rugi banget kalo gak beli sekarang! Dibangun di atas lahan seluas 800 hektar, The Mansion at Kandang dipersiapkan menjadi one stop living yang akan menjadi pusat bisnis, belanja, fashion, juga hunian alias kandang yang nyaman di Jakarta, sangat cocok lho bagi mereka yang mendambakan kemewahan dan terjamin privasinya.” *bisik-bisik ke Epelin* “Emang hari Minggu buka ya Bu?”
Epelin: *bisik-bisik juga* “Ya gak lah! Besok Senin bukanya, jadi harganya dah naek dah, hihi…”
Dimas: *dasar gak mau rugi!* “Baiklah pemirsa, jadi bagaimana dengan sistem pembayarannya Bu?”
Epelin: “Gampang sekali Mas Dimas, bunganya tentu saja nol persen, bisa diangsur 24x dong.” *kedip-kedip*
Dimas: “24x angsuran tanpa bunga?! Tunggu apa lagi pemirsaaaaa! Tapi, berapa nih harga per unitnya?” *penasaran*
Epelin: “Cuma 800 juta sajah, cukup murah dengan fasilitas wah seperti ini Mas Dimas.”
Dimas: *sesak nafas plus pengen tampar ni orang* “WAH! Betul sekali Bu Epelin, ini muraaaaaah sekali, semua orang Indonesia pasti mampu beli ya.”
Epelin: “Betul… Betul… Mas Dimas.”
Dimas: *btw kok daku gak diajak naik helikopter ya buat liat-liat* “Boleh liat-liat gak Bu gimana suasana huniannya?”
Epelin: “Oke Mas Dimas, itu sudah kami sediakan sepeda buat ngeliat-ngeliat sambil muterin kompleks ini.”
Dimas: *anjrit! Feni diajak naek helikopter kok daku naek sepeda, sial* “Oh kalo gitu nanti saja deh Bu Epelin, jadi bisa disimpulkan ya kalo pemirsa beli hunian di The Mansion at Kandang ini pasti gak bakal rugi ya?”
Epelin: “Betul sekali Mas Dimas, karena hunian ini adalah kandang yang lengkap dan modern, dengan fasilitas yang tertata dengan rapi.” *sambil benerin sasakan rambut*
Dimas: “Baiklah pemirsaaaaa, hubungi delapan dua satu lima enam delapan tiga ribu segera melalui marketing kami. Cepetan! Karena besok pasti harga sudah naik!” *argh! Bisa gila daku kalo bawain acara ini tiap minggu…*
Produser: “CUT! Selesai!”
Jadi bagaimana, tertarik beli hunian dengan fasilitas lengkap dengan privasi luarrrr biasa ini? Beli saja rumah di The Mansion at Kandang, The True Icon of Kandang! *ngeloyor pergi* (*)
Guys, sumpah deh bukan maksud daku buat nguping telepon tengah malam si empunya kamar sebelahku. Bukan salah daku juga kan hampir beberapa bulan ini daku setiap malam jadi wayang bermata sendu karena kudu ngelembur buat ngetik ini dan belajar itu. Setelah tesis lulus dengan gemilang, daku akhir-akhir ini kudu menggila belajar skripsi yang bakal maju pendadaran Kamis depan *doakan daku ya semuanya! Hehe*. Ya jadinya daku harus hidup di malam-malam yang hening dan penuh ketenangan jiwa sampai daku HARUS mendengar percakapan-percakapan ini dari sebelah kamar:
AD: “Halo sayang… Lagi ngapain?”
BC: “blub blub blub blub…”
AD: “Kenapa sayang? Kok curiga aja sih?!”
BC: “blub blub blub blub…”
AD: “Ya ampun! Udah dibilangin gak percaya! Abang itu gak kemana-mana, seharian di kamar aja! Kok gak percaya sih sayang?”
BC: “blub blub blub blub…”
AD: “Iya iya… Besok kuliah, kenapa sih kok marah-marah terus?!”
AD: “Malam cantik!”
BC: “grok grok grok grok….”
AD: “Iya iya, katanya mau mandi? Kok belum mandi?”
BC: “grok grok grok grok….”
AD: “Ya ampun cantik! Itu suara TV! Bukan suara siapa-siapa di kamar!”
BC: “grok grok grok grok…”
AD: “Kok gak percaya si?! Ini ya aku matikan TVnya, tuh kan gak ada suara lagi kan?!”
BC: “grok grok grok grok…”
AD: “Apalagi si cantik? Iya iya! …. dst dst…”
BC: “nguik nguik nguik….”
AD: “Iya ini udah di kamar kok…”
BC: “nguik nguik nguik…”
AD: “Ya ampun! Tadi itu abis dari tempat temen ngerjain tugas! Kok gak percaya si?”
BC: “nguik nguik nguik…”
AD: “Aduh sayang… Beneran! Bisa gak si sekali-kali telpon gak marah-marah?”
BC: “nguik grok grok blub blub nguik…”
AD: *terdiam lamaaaaaaaaa sekali*
ARGH!!!! *jambak rambut daku sendiri sambil tendang si boneka Doraemon*. Bodoh sekali si AD ini?! Seandainya saja itu cewek secantik Sandra Dewi pun kayaknya daku juga gak bakalan rela dah dimarah-marahin kayak gitu tiap harinya. Mana dianya pasti udah boros pulsa, tidur pun jadi gak nyenyak bayangin muka nenek sihir si Badak Cula itu. Duh anak muda jaman sekarang… Apa memang gaya pacaran mereka lagi trend kayak gitu ya, seperti sinetron-sinetron stripping di TV? (*)
Namanya kos-kosan tentu sudah hal biasa kalo penghuninya silih berganti setiap tahun. Ada yang pergi, tentu aja juga ada yang datang. Begitu juga dengan kosku. Sebagai penghuni kos yang paling uzur, tentu daku udah sering banget bertetangga dengan makhluk-makhluk luar biasa sampe yang ajaib. Ada yang punya IPK empat mulu padahal kuliah di Teknik UGM *dan jarang banget belajar!* sampe yang gak pernah masuk kuliah, karena kerjaannya cuma jadi peran pengganti kebo di sawah, kekeke. Tapi… Anak yang baru nongol di kosku ini sungguh ajaib. Bukan… Bukan karena dia bisa makan pake idung atau gak punya alis sama sekali. Malah bisa dibilang dia anak kos paling anteng dan ganteng *kata anak-anak kos cewek sebelah* dibandingkan kami yang bar-bar dan mengerikan. Tapi yang aneh adalah… kamarnya! Iya kamarnya! Secara dua kamar di sebelah kiri kamarku itu punya jendela sebesar jendela airport *baca: segede gajah* dan bisa dibuka ke arah atas, tentu pada dasarnya nikmat banget kalo yang suka cari angin untuk teman belajar atau buat mereka yang gak suka masuk kamar lewat pintu, soalnya bisa lewat jendela, tinggal ngangkang udah bisa ngesot ke dalam kamar.
Nah, waktu Ryo *begitu dia biasa dipanggil* pindah ke kamar pojok itu, tiba-tiba aja terjadi perombakan kamar besar-besaran. Semua celah angin dan jendela dipasang kassa kawat yang kayak jaring nyamuk ituh. Mungkin kalo ketemu daku bisa-bisa mulut daku juga dikassa-in ma bokap nyokapnya! Huhu… Belum lagi juga dipasang kipas angin kecil ke arah luar itu *sumpah daku lupa mulu namanya, sampe anak-anak kos bete*. Kalo dipikir-pikir secara ilmiah *cailah!* kalo takut ma nyamuk kayaknya gak, secara kejadian DB baru sekali terjadi di kos. Siapa yang kena? Tentu saja daku yang tampan ini.
Aku dan Iqbal setiap hari mengamati *mengintip tepatnya* dengan seksama dari jendela kamar Iqbal, berharap bonyoknya Ryo bakal pasang AC, jadi kalo kepanasan tinggal ngorok di kamar Ryo, hihi…Tapi sayang itu tak pernah terjadi. Setelah kamarnya udah jadi, daku, Iqbal dan anak-anak kos lain sebagai anak kos yang ramah dan baik hati tentu saja ingin mengunjungi kamar Ryo. Biasanya kami - anak-anak kos lama - hobi banget bertamu di kamar anak baru, mencoba semua barang-barangnya yang baru, lalu meninggalkan kamarnya dalam keadaan seperti abis kena tsunami, kekeke….
Tapi lagi-lagi cita-cita itu kandas! Gagal total! Kenapa? Karena dengan sangat anehnya si Ryo ini gak pernah sama sekali membiarkan pintu kamarnya terbuka lebar. Setiap keluar langsung di kunci kamarnya *ya iyalah!* tapi kebalikannya juga, setiap masuk kamar, pintunya langsung ditutup dan di kunci. Langsung muncul beberapa kesimpulan di otak anak-anak kos:
Kami pun semakin bertanya-tanya setiap harinya, sampe-sampe gak bisa makan… Bukan karena mikirin Ryo sih, memang karena uang bulanan belum dikirim, kekeke. Sampai akhirnya daku tak sengaja berhasil membuka rahasia (besar) Ryo selama ini. Ayo tebak rahasianya apa? Begini adegannya:

Dear Mama,
Aku kangen Mama. Sungguh sudah terlalu lama kita tak bertemu, lebih dari tujuh tahun aku tak bisa menyentuh lembut jemarimu atau sekedar membantu Mama lagi mencari jilbab yang serasi dengan baju. Iya Ma, aku tak mungkin lupa dengan warna kesukaan Mama, coklat muda dipadu dengan bros yang serasi. Atau daster batik yang selalu Mama pakai di rumah, daster yang aku beli di Beringharjo dengan harga cukup murah, seperti pesan Mama.
Ma, aku selalu rindu Mama disetiap doa yang kukirimkan untuk Mama. Aku juga rindu masakan Mama, mulai dari tempe goreng dengan racikan khusus sampai dendeng balado yang selalu kuminta ketika pulang. Senyummu akan segera mengembang ketika aku memakan semua dengan lahap. Ya, di Jogja memang tak ada makanan seenak masakan Mama. Masakan yang dibuat dengan penuh rasa sayang.
Hari ini Mama ulang tahun, tepat berumur 58 tahun. Ingin rasanya aku mampu mencium kening Mama dan mengucapkan syukur atas hadirmu di hidupku. Tak ada hadiah dariku Ma, sekali lagi hanya doa yang mampu kupanjatkan. Aku tahu, kebahagiaanku dan kebahagiaan anak-anakmu adalah harta yang ternilai dibandingkan benda apapun.
Ma, anggrek-anggrek kesayangan Mama pun berulang kali mekar sangat indah, entah yang berwarna ungu, atau putih yang selalu menjadi kesukaan Mama. Bunga yang selalu membuatku menangis dalam hati ketika aku menyentuhnya dengan perlahan. Maafkan ananda Ma, hari ini, aku tak bisa mengantarkan setangkai bunga anggrek bulan yang cantik ke pusaramu. Di tempat Mama tertidur dengan damai. Selamanya bersama doa-doa yang menemanimu.
Tugas daku sebagai wartawan media infotainment Chek & Bechek akhirnya bertambah. Kali ini ada segmen baru yang harus daku kerjakan, sebuah tugas mulia dari sang produser. Nama acaranya adalah Chek & Bechek Investigasi. Gak mau kalah dong sama infotainment laen. Nah kali ini yang harus daku lakukan adalah menginvestigasi pasangan Ringgo Agus Rahman dan Revalina S. Temat yang sampe sekarang gak mau ngaku kalo mereka pacaran. Haduh ada apa ini? Jelas-jelas kemaren mereka tertangkap basah makan duren bareng sambil jongkok di pinggir jalan, masih gak mau ngaku juga!
Nah, sekarang daku sudah menunggu Revalina yang lagi makan brongkos dan owol-owol *cantik-cantik kok makanannya serem* di salah satu restoran yang gak ternama blas. Enam reporter infotainment udah berkerumun di depan resto. Akhirnya Reva pun dengan anggunnya keluar dari resto itu.
Reporter 1: “Mbak Reva! Mbak Reva! Ngobrol bentar dong!” *tarik-tarik rambut Reva*
Reporter 2: “Mbak Reva, gimana rasa owol-owolnya?” *tampar pipinya Reva*
Reporter 3: “Revalina, bagaimana menurut Anda mengenai inflasi dunia yang sedang gonjang-ganjing sekarang? Apakah suku bunga BI harus diturunkan lagi menjadi 7,5%?”
Reporter lainnya dan Revalina: *menatap kejam ke arah reporter 3*
Reporter 3: “Lho kenapa sih?! Aku kan reporter tvone, satu untuk semua! Satu berita untuk semua acara!” *teriak-teriak sambil menjambak rambutnya sendiri*
Dimas: “Udah Mbak Reva, cuekin aja, nanti ketularan gila lho… Mbak Reva, boleh dong denger klarifikasi sedikit. Bener gak Mbak Reva pacaran sama Ringgo?”
Reporter 4: *bisik-bisik* “Ringgo itu sapa ya?!”
Reporter 5: “Itu lho yang jadi lawan maennya Reva di pelem Pocong 2, yang jadi pocongnya. Aktingnya jadi pocong meyakinkan.” *sok tahu sambil bisik-bisik juga*
Revalina: “Aku sama Ringgo hanya teman aja kok. Aku sih semuanya teman.”
Dimas: “Masa sih? Kan kalian sering keluar berdua, gosipnya karena ayah Reva gak setuju ya? Karena turun kasta abis dari Panji terus ke Ringgo?”
Revalina: “Sama sekali enggak. Papa nggak bilang setuju atau nggak. Dia izinin sama siapa aja. Kalau jalan-jalan gitu nggak papa, wajar orangtua ikut campur. Asal dikenalin sebagai teman ya enggak papa.” *tetap menjawab dengan anggun*
Dimas: *duh susah bener ni orang diwawancarain* “Tapi Mbak Reva kayaknya berjodoh lho, wajah kalian berdua mirip banget si.”
Revalina: *tersipu malu* “Ah masa sih Dimas?! Makasih ya…”
Dimas: “Iya lho Reva, daku tak menyangka, kalian begitu mirip, tak sengaja daku melihat foto profil kalian di Facebook. Fotonya keren banget!”
Revalina: “Heh yang mana sih?”
Dimas: “Yang ini dong…. Yang satu ganteng, yang satu lagi cantik banget, bener-bener cocok dah.” *sambil ngasi liat foto-fotonya*
Revalina: *terdiam dengan shocknya*
Reporter 3: “Revalina, bagaimana menurut Anda mengenai penyewaan tanah hutan lindung untuk usaha pertambangan?”
Revalina: *menjambak-jambak rambutnya sendiri sambil tendang reporter tvone*
O iya, penasaran sama fotonya? Ini dia:

Pagi tadi dengan semangat Supersemar daku ngacir ke kampus. Ngapain Dimas? Apalagi kalo bukan buat bimbingan skripsiku yang udah jadi prasasti dengan debu setebal 5 senti di atasnya karena udah gak kesentuh hampir… *menghitung dengan jari* ya… kira-kira satu tahun lebih lah! Hihi…
Dita: “Dim, piye skripsimu? Mosok udah mau wisuda magister malah S 1 nya belum? Padahal… Bukannya dirimu udah ngerjain skripsi dari awal kita masuk magister?! Dua tahun lalu dong! Ngapain aja lu?” *Dita geleng-geleng prihatin plus cemas dengan nasibku*
Dimas: “Ah masa? Gosip itu Dita, jangan percaya sama infotainment, hihi. Daku kan soalnya konsentrasi ma kuliah magister Dit.” *ngeles tentunya*
Alhasil tadi pagi daku duduk manis di sofa berwarna merah pudar mengerikan dengan tiga orang lainnya yang menunggu Bu Antari, sang dosen pembimbing kami. Tiga orang yang bersamaku itu tentu saja adek-adek angkatan yang dengan terpaksa harus menyapa daku duluan. Yang pertama Si Gendut Nan Ramah *sebut saja dia SGNR*, yang kedua Si Manis Berjilbab *sebut saja dia Bunga, eh SMB ding* dan satu lagi Si Diam Gak Penting *gak penting lah pokoknya, lho?*.
SGNR: “Mas mau bimbingan ya?” *dengan senyum sumringah*
Dimas: *gak, daku mau dongkrak mobil!* “Eh iya nih, bimbingan Bu Antari juga ya?”
SGNR: “Iya Mas, ini baru mau bimbingan bab tiga. Mas mau bimbingan apah?”
Dimas: “Baru masukin draft skripsi si… Rencana wisuda kapan?”
SGNR: “Pengennya bulan Mei besok Mas, Mas sendiri?”
Dimas: “Mei juga dong!” *dengan pede amit-amit*
SMB: *melotot tak percaya sambil mengasah pisau* “Gak mungkin banget Mas! Keajaiban kalo Mas bisa pendadaran bulan ini!”
Dimas: “Kenapa gitu?” *shock berat, banting meja dan kursi, bakar mobil dosen, eh boong ding*
SMB: “Soalnya Bu Antari itu detail banget ngecek tiap tulisannya. Titik koma aja jangan ampe dah ada yang salah.”
SGNR: “Saya aja ya Mas, baru masuk bab tiga sebelumnya dah DELAPAN kali bimbingan!” *dengan bangganya, du du du*
Dimas: *mangap dan dirubung lalat*
SMB: “Tabahkan hatimu Mas, tetaplah semangat… Sudahlah, ikut wisuda Agustus saja.”
SGNR: “Eh Mas emangnya angkatan berapa sih?”
Dimas: “Dua ribu satu… Makanya mau ngerayu ibunya supaya bisa dicepetin sebelum daku terancam DO, huhu.”
SGNR: “KAKAKA…. Ternyata ada yang lebih tua dari aku! YES!” *tertawa dengan sangat girangnya*
Dimas: *tersenyum getir*
Eh pas si SMB berdiri mau masuk ke ruangan, tiba-tiba aja ada mas-mas-bodoh-tak-berpendidikan-pake-dasi-udah-jelek-item-pula ngeloyor masuk bertemu Bu Antari. Anjrit! Padahal kami dah sampe ingusan nungguin hampir dua jam dan dia baru aja dateng! Sial!
SGNR: “Dasar anak magister tak tahu di untung, apa seh maunya dia?!”
SMB: “Kurang ajar! Mas-mas jelek gak tau diri! Minta ditampar bolak-balik itu orang!”
SDGP: *tetep diam gak penting*
Dimas: “Iya! Anak-anak magister memang kayak gitu! Gak tau diri, nyebelin, sok asik, bla bla bla!” *untung aja mereka gak tau daku baru lulus dari magister, hihi…*
Setelah mereka puas maki-maki itu manusia, dan daku pun juga puas ngomporin mereka, ya dengan sangat terpaksa kami menunggu dan menunggu lagi… Setelah menunggu satu jam, akhirnya daku berhasil menyerahkan itu draft skripsi dan harus menemui beliau satu minggu kedepan buat bimbingan perdana. Lama sekali ya, huhu… Duh semoga saja nanti semua lancar dan keajaiban lagi-lagi menghampiriku, amien. (*)
Setelah daku pontang-panting setengah hidup dan setengah mangap mengurus ujian pendadaran sampe berhasil dieksekusi lulus, akhirnya sampai juga daku ke tahap ngurus wisuda. YES! Pada awalnya daku pikir yang namanya ngurus wisuda tentu saja tak susah, paling tinggal ngisi formulir dan bayar wisuda, kelar dah! *abis itu kipas-kipas sambil minum soda gembira di taman* Tapi… Impian tak seindah kenyataan kawan. Kuliah di kampus yang besarnya se-lapangan bola dikali seratus, terus dibagi dengan pola jajaran genjang, tentu saja membuat mimpi buruk kembali menghantui. Harus mengurus surat keterangan bebas pustaka di tiga perpustakaan yang berbeda *dan berjauhan!* tentu saja sangat menggairahkan. Menggairahkan untuk ditinggalkan tentunya. Ke perpustakaan pusat naik ke lantai dua, terus pindah gedung ke perpustakaan pascasarjana, naik ke lantai dua, terus pindah gedung lagi ke perpustakaan fakultas, ngesot dah di lantai. Capek berat! Belum lagi bawa jilidan tesis segede gaban kemana-mana.
Yah tapi yang namanya mau lulus ya memang butuh pengorbanan. Kalau ingin mencapai sesuatu yang baik, tentu saja ada rintangan terlebih dahulu. Mungkin begitu juga dengan ritual mengurus wisuda ini. Nah, selain daku kudu mengurus surat bebas pustaka itu, daku juga kudu mengetik ulang segambreng formulir yang kudu diisi, mulai dari data penulisan ijazah sampai kartu alumni Gadjah Mada. Dan kawan, telah terjadi kebodohan tingkat tinggi yang membuat daku sangat amat malu sekali. Begini ceritanya… Perhatikan data penulisan ijazah di bawah ini:
|
Nama Nomor Mahasiswa Program Studi Minat Fakultas |
: Dimas Novriandi : 18203/PS/MH/05 : Magister Hukum Bisnis : Menulis : Hukum |
Ada yang aneh gak dengan data di atas? Gak kan?! Daku juga begitu dengan yakin seyakin-yakinnya. Tapi ketika daku ketemu Mas Asep di sekretariat Magister Hukum, beliau bilang begini,
Mas Asep: “Mas Dim, dirimu kok lugu banget ya? Haha…”
Dimas: “Heh kenapa gitu Mas?”
Mas Asep: “Coba deh cek di data ini yang bagian minat.”
Dimas: “Lho kan bener Mas? Daku kan mang minatnya menulis, hihi…. Mang aneh ya?”
Mas Asep: “Bukan gitu… Maksudnya Minat itu adalah jurusan spesifik yang diambil di program Magister, bukan hobi.” *menahan tawa*
Dimas: *bengong bin malu* “Oh gitu ya Mas, jadi harusnya Program Studi Magister Hukum dengan Minat Hukum Bisnis ya Mas?” *ketawa bodoh dengan wajah memerah – cari lubang buat sembunyi*
Mas Asep: “Iya harusnya gitu… Terus kamu isi apa di formulirnya si Ari?”
Dimas: “Olah Raga Mas…. “ *ketawa ngakak setelahnya*
Ya ampun! Mungkin daku adalah lulusan Pascasarjana terbodoh bin terlugu dari UGM. Gak kebayang aja nanti di ijazahku tertulis Magister Hukum Bisnis Menulis dan di ijazah sahabatku Ari *yang daku urus semua syarat wisudanya* juga tertulis Magister Hukum Bisnis Olah Raga. Kakaka….Duh jadi gak yakin ni mau wisuda. (*)
Dear Dian Sastrowordoyo kekasihku,
Dian sayangku, kemanakah engkau selama ini? Kakanda mencarimu ke pantai, tapi dinda tak ada, ku lari ke hutan, kok ketemunya sama monyet. Sebel! Dianku, apakah kamu masih sibuk dengan urusan asisten dosen di kampus? Semoga tetep semangat ya… *kedip-kedip* Sebenarnya daku kesal dengan kamu sayang. Dulu ketika daku kuliah di Fakultas Filsafat, eh kamu kuliah di Fakultas Hukum… Eh pas daku bela-belain pindah ke Fakultas Hukum dengan harapan nantinya kita bisa ngobrol asik tentang dunia hukum yang carut marut kayak cendol, kamu malah pindah ke Filsafat, gimana sih?! Duh… Untung aja setelah enam tahun kamu berhasil lulus sayang, dan aku… terjebak tujuh tahun di kampus ini gara-gara kamu *ambil biola, maenin lagu sedih*
Dian cintaku, sebentar lagi kamu ulang tahun kan? Kakanda sudah mempersiapkan hadiah isimewa untukmu… Inget kan jaman kita masih muda dulu, ketika perutku belum membuncit dan rambutku belum seperti ubur-ubur? Aku yakin Dian sayang gak lupa dengan foto mesra kita berdua itu. Kamu dulu pernah berharap, suatu hari nanti foto kita itu bisa ditayangin di acara Ceriwis sebagai foto ‘saat-saat indah bersama dengan kekasihku yang tampan’. Kamu inget kan? Nah itu lah hadiah yang kupersiapkan, foto kita berdua seukuran gajah lampung yang bakal ngingetin kamu akan daku.

Dian tambatan hatiku, aku tahu, kamu ingin sekali menulis tentangku di blogmu yang masyur itu. Saat-saat kita berdua bengong sambil ngupil di bawah pohon rambutan, atau pun saat rebutan rol rambut supaya rambut kita bisa keriting keren kayak si Nicholas SA-PA-SIH itu. Aku tahu kok sayang… Tak usah malu, biarkan semua mengetahui kisah kasih kita.
Dian belahan jiwaku, tapi perkenankanlah aku memohon maaf sebelumnya sayang… Melalui surat ini, aku hanya ingin bilang… Tolong lupakan aku. Aku tahu, pasti sungguh sulit untukmu. Tapi aku tak bisa membelah hatiku menjadi dua. Bukankah cinta juga tak boleh poligami? Aku sungguh mengerti dan yakin, kamu bisa sukses tanpa aku sayang… Biarkan aku bahagia dengan yang lain, dengan dia yang lebih menyayangiku apa adanya. Dia adalah… Sandra Dewi. Iya, dia memang mirip dengan kamu. Tapi Sandra bukanlah tandinganmu sayang, percayalah! Aku bukan meninggalkanmu, hanya terlepas darimu… *lho ini kan kata-kata Noe Letto?*
Dian mantan pacarku, demikianlah surat ini aku tulis. Tetaplah menjadi bintang di langit dan aku menjadi bulan yang selalu menemanimu. Sampai jumpa lagi sayang… Sering-seringlah mampir ke blog aku. Karena hanya disinilah kita dapat bertemu. Sun sayang dari jauh…
Aku si tampan,
Dimas Novriandi
“When you ask for patience, God doesn’t give you patience. He instead gives you an opportunity to be patient.”
Evan Almighty, God.
Stranded out in the middle of hectic long-weekend-affected Jogja after a not very long conversation to wrap things out, a not very long time to shift someone’s mind across to the opposite side too – for one reason, Easter is celebrated with too many good days – I felt, by all the sudden, compelled to steer away into my favorite Italian franchised café whose real name is less vibrant than its network’s name, Circi. Calling my friends who need to be reminded about the real concept of Jogja’s Finest Day (J-FED) came to the second place as I was thinking of getting strange in the middle of strangers.
J-FED is the better way to call it. It comprises Jogja’s Finest Day which can be mispronounced into Jogja’s Finance Day – my favorite business subject nowadays – while the element of FED itself resembles The Federal Reserve – my day maker and day breaker at the same time. The concept? It’s a little bit of spontaneous thing to lessen the effect of a stressful uncertainty which had swallowed me whole for almost too long that I feel rather chewed. So, it’s no wonder if there’s no kind of short notice to a min… say… a day? It could be as we speak and the next minute I’m in the brown cedar room with black U1 Yamaha upright piano.
This Saturday night is rather a different J-FED from usual. Yes, this isn’t the first J-FED I’ve ever held, only the blog came out this nicely late that there wasn’t much story in the previous events. I came to the café around 20 minutes before the first buddy I called showed up to relieve me. I was thinking to myself this would turn out differently as people started to respond for this more familiar J-FED. Some groups filled the café three hours to midnight and looked very warm and embraced by the ambiance in the café. They started to sing along with the home pianist who recognizes me and was fainting away due to lack of sleep. I covered him up and took the piano seat in comical manner, planned to handle the crowds I had not met before. So the story begins…
It begins with several minutes before I arrived in Circi. Okay.. say.. it’s too private for a blog material but I’ll try to fabricate it. After all, you need a reason why such of spontaneous event could be provoked at the first creation of the idea. Have you ever felt like you know something is not true but you let someone tell you a lie because that’s what she wants you to know? Like pretending to be egghead with a clear thought that being stupid eases things? Feeling tired of something and yet disappointed at how that thing ends? Well, anger, inquisition, and compensation rushed me to Circi after being patient almost seemed like the angelical solution for me.
Circi itself, as I started to feel surrounded by other patrons, seemed like an opportunity to start being patient. I must say – as once been a secular – malt drinks, and sexy dancer and model who offered me her phone number instantly look like how I must compensate with my anger and stop my inquisitive motion once and for all. Voila! What a fine answer! Or.. I can always choose to pass them and be what I said to her under the vow to God, a true man in a true love. Or.. God really wanted to show me the good thing outside my relentless hope that the sea is plenty of fishes. My friends tried to tell me the same thing, God gave me the phone number of that sexy girl without asking. So? Shall I?
You see, the good thing about J-FED is that you don’t need to answer right away. You can go back late after the bar is closed, and watch Evan Baxter talking to God (hanging out, in his script), and write some blog that you’re planning to co-publish with the existing more famous blog address of your friend’s. And the best thing about the whole night in which J-FED is held, you’ll learn a lot (even sometimes not in a good order). Maybe it’s not Genesis 6:14 signs all over the place where my eyes spot, but it’s a great lesson that God does hang out with you.
I still haven’t decided which option I should take up to present. At least what J-FED had done to me is buying me some patience for few hours. Either way, it’s true, you don’t get the answer to your quest as in a result but instead in an opportunity for the result. Happy Easter and see you in the next J-FED!
Happy Hartono, T.itle.L.E.S.S.
FAQ
Q: Where and how is Circi?
A: Sing along and stop occupying the bandwidth in Circi’s hotspot that takes people’s attention out of cable broadcast as you find yourself south to Grand Hyatt’s main entrance right after the bridge on the lefthand side if you’re coming from the conical monument of hard raining mayor’s daughter’s wedding.
Q: Is it ‘cheap’?
A: If you sing along then you’d need no quotes around the word cheap, let alone dancing.

JAKARTA - Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri terus menyatakan seorang presiden tak harus sarjana. Alasannya, nabi saja bukan seorang sarjana.
“Nabi saja seorang pemimpin, tapi nggak sarjana kok. Pemimpin jangan hanya dari kalangan elit saja. Itu kembali kepada rakyat. Jangan hanya politisi itu yang menguasai elit saja,” ujar Megawati.
Dia mengatakan itu saat memberi sambutan dalam pelantikan pengurus daerah Baitul Muslimin (Bamus) I Provinsi Jakarta dan peresmian Pondok Pesantren Nurul Musthofa, di Jalan Raya Ciracas, Jakarta Timur, Minggu (16/3/2008). Ditegaskannya kembali, mengenai siapa yang berhak menjadi pemimpin negeri ini harus sesuai kehendak rakyat.
“Saat ini sedang dipolemikkan jadi presiden harus seorang sarjana. Karena saya bukan seorang sarjana, jadi saya kembalikan pilihan kepada rakyat. Jangan kita lupakan kewenangan utama hak di tangan rakyat,” tutur istri Taufik Kiemas ini. (jri)
Sungguh, daku bukan lah pecinta berita politik. Walau tiap hari berlangganan surat kabar Kompas yang setebal gajah itu, pasti bagian politik daku baca paling terakhir, bahkan kalo bisa di skip aja *abis tiap baca berita politik bawaannya bikin emosi jiwa* tapi berhubung nyampur sama berita hukum mau tak mau daku kudu membacanya dengan seksama dan tekun, walau tetep pilih-pilih berita juga sih.
Nah kali ini berita tentang mantan presiden Megawati muncul di salah satu situs berita, awal-awal si biasa aja bacanya, tapi setelah disimak dengan baik dan benar, daku kaget dengan bagian ini yang dikatakan oleh ibu Megawati ituh,
“Nabi saja seorang pemimpin, tapi nggak sarjana kok. Pemimpin jangan hanya dari kalangan elit saja. Itu kembali kepada rakyat. Jangan hanya politisi itu yang menguasai elit saja,” ujar Megawati.
Du du du… Aduh Bu, tapi kan Nabi gak ada yang cewek bukan? Hihi… Ups! Lagi pula Nabi itu kan utusan Tuhan, mereka manusia terpilih yang diberikan wahyu oleh-Nya agar bisa merubah umat manusia hidup lebih baik di dunia dan akhirat. Ya… Selayaknya jangan disama-samain kayak kita yang manusia biasa. Kalo berani dan mau membandingkan diri mungkin bisa sama khalifah-khalifah pemimpin umat di Timur Tengah sono, emmmm…. tapi mereka semua berwibawa, berpendidikan dan apal Al Qur’an ding… Jadi kalo dibandingin…. Gak ikut-ikut ah… *peace Bu Mega*
Daku sih pada dasarnya sepakat kalo seorang pemimpin tidaklah harus sarjana, asalkan seorang pemimpin itu memiliki semangat nasionalisme tinggi dan sungguh-sungguh mencintai rakyatnya. Tapi kalau untuk menjadi pemimpin yang baik, kan lebih bijak kalo sebelum berbicara dipikirkan terlebih dahulu dengan matang, jangan sampe apa yang disampaikan malah bikin rakyat keki atau misinterprestasi. Ada tips lho Bu supaya bisa 100% sukses kalo mau pidato, yaitu minum Mizone dulu, supaya bisa maksimal *kaburrrr!* Semangat Bu buat Pemilihan Presiden 2009, semoga sukses! (*)
Belajar. Dari kecil tentu dong kita sudah dicekoki dengan yang namanya belajar. Belajar jalan. Belajar berbicara. Sampai belajar di bangku formal yaitu di sekolah selama 12 tahun sampai dilanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Aku masih ingat ketika mulai belajar di universitas. Kupikir ini sudah saatnya untuk tidak hanya sekedar mondar-mandir kampus – kamar - kantin, tetapi seharusnya juga menambah bekal ilmu dari kehidupan nyata, belajar dari sekeliling kita.
Setelah dihitung-hitung, tak sadar kurang lebih sudah lebih dari 7 tahun aku bekerja sambilan di beberapa tempat, menclok sana menclok sini, walau duitnya sampai sekarang gak ada satu rupiah pun yang berhasil di tabung, hihi… Tapi setidaknya aku banyak belajar dari tempat kerjaku dan juga dari mereka, orang-orang sekelilingku *ngeles mode on*
Aku mencoba-coba untuk mengingat, apa saja yang benar-benar membuat aku tergugah untuk menjadi seorang Dimas, sebagai pribadi yang lebih baik dari sebelumnya:
Guys! Akhirnya daku LULUS juga! Yippie! *tatapan bingung dari pembaca* Ya… Ya… Memang kemaren daku masih heboh sekali cerita tentang tesisku yang dianggap soto sama dosen pembimbing tercinta. Tapi good newsnya adalah… Sabtu lalu ketika daku dengan langkah sangat tidak percaya diri untuk bimbingan kedua, dan setelah menunggu sampe jenggot 2 meter saja *karena tidak begitu lama* akhirnya daku - si tampan ini - masuk ke ruangan bimbingan. Pasang senyum selebar tiga jari dan rambut abis disasak pake tangan di kamar mandi lantai bawah. Pak Taufiq dengan sigap langsung ingin langsung melarikan diri *ya gak lah! huehe*. Dengan senyum ramah, beliau mempersilahkan aku duduk dan kemudian sedikit mereview hasil revisiku. Beliau hanya bilang kalau kesimpulan saya lebih dipertegas, karena dianggap masih terlalu luas dan tidak fokus. Cuma itu? Iya, cuma itu teman-teman! Kok bisa ya? Hihi…
Pak Taufiq: “Mana Mas lembar pengesahannya?”
Dimas; “Hah lembar pengesahannya? Saya kira… Saya masih butuh revisi beberapa kali lagi Pak.” *wajah kaget plus bingung, butuh nafas buatan!*
Pak Taufiq: “Ya sudah, besok Senin saja, kamu lengkapi semua tesisnya dan sekalian saya approve.”
Dimas: *wajah sumringah* “Baiklah Pak!”
Dhony: “Dimas! Gimana tesisnya? Dah ACC?”
Dimas: “Udah Dhon, akhirnya! Baruuuu aja, hehe….”
Dhony: “Wah selamat! Ayo kita ujian bareng!”
Dimas: “Ya gak mungkin lah Dhon, kan pendaftaran ujian terakhir hari ini… Huhu…”
Dhony: “Iya ya…” *wajah sedih*
Mbak Dian yang bekerja di sekretariat ternyata menyimak percakapan kami dengan sangat baik, karena kami berdua memang kalo ngobrol seperti berada di tebing dan satu lagi di dalam jurang, karena kalo dah ngomong tentu saja dengan kekuatan suara 7 oktaf yang dasyat, hihi…
Mbak D: “Lho ya udah Mas Dimas, daftar sekarang aja! Kami tunggu sampe jam 6 sore nanti syarat-syaratnya.”
Dimas: “HAH? Apakah itu mungkin?” *sok EYD*
Sudah setahun lebih aku mengerjakan skripsi dan setengah tahun pula aku hampir gila mengerjakan tesis. Memang sungguh ide brilian kuliah di dua strata yang berbeda dalam satu waktu dengan bidang studi yang sama *dan satu gedung pula!*. Dan lebih bodohnya lagi, kedua tugas akhirku ini berkonsentrasi dengan hal yang berbau minyak dan gas bumi *karena penasaran juga sama kerjaan bokap*. Bidang keilmuan yang gak indah banget kalo dihubung-hubungan dengan hukum. Bahkan kalo di Fakultas Hukum UGM, konsentrasi Hukum Pertambangan itu baru ditawarkan hanya untuk mereka mahasiswa kinyis-kinyis angkatan bawahku yang jauhhhhh sekali alias terjun bebas dibandingkan dari tahun angkatanku *ya iyalah! secara daku 2001 mereka angkatan berapa gitu ya*.
Terus… Kan kalo di hukum itu ada penjurusan tuh, nah kalo S 1-ku aku ngambil penjurusan Hukum Perdata yang kerjaannya berhubungan dengan perjanjian alias kontrak *biyar cepet kaya, amien! hihi* dan konsentrasi S 2-ku adalah Hukum Bisnis. Nyambung gak Dim? Gak juga sih… *menangis galau sepanjang jalan*.
Kalo tesismu gimana Dim? Wah kalo tesis ini lebih heboh lagi saudara-saudara. Karena aku pemalas, licik dan culas, tentu saja dulu waktu ngajuin proposal, kubuat dengan tema mirip dengan skripsiku supaya daku gak kudu mikir dua kali, toh para dosen gak bakal tahu kan? *tertawa seram*.
Di kamar hotel antah-berantah…
Evan: “Bro, ngapain nih di kamar? Bengong gak jelas gini… Eh gue bawa kamera ni! foto-foto yuk…”
Si Bule: “I think that’s good idea bro! Sebentar, gue di foto tampak samping ya, kayak cewek-cewek di Friendster gitu deh, foto tampak samping dari atas trus pake poni, tapi gue gak punya poni, hihi…”
Evan: “Haha… Ya udah… Duduk di kursi pojokan sono deh, gue foto ya…”
Si bule pun siap-siap foto dengan gaya tampak samping… Cekrek! *suara kamera*
Evan: “Yah tapi kok jadinya biasa aja ya… Kurang seru!”
Si Bule: “Hm gimana ya pose yang lucu? Atau… Gimana kalo kita foto pake celana dalam aja terus lu peluk gue dari belakang? Hihi…” *tertawa seram*
Evan: “Kayak pose gay gitu?” *bingung*
Si Bule: “Kan cuma lucu-lucuan, kayak lu gak pernah aja foto bareng ma cowok sedikit mesra, gue kan keponakan kakak lu!”
Evan: “Iya sih… Tapi… Ya udah lah, gue buka baju ma celana gue ya.” *pasrah*
Si Bule: “Nah gitu dong, demi persahabatan kita yang abadi bro, mari kita foto dengan pose yang pasti lucu banget ini.” *buka baju dan celana juga*
Evan: “Jadi… Gue peluk dari belakang nih?”
Si Bule: “Iya dong, lu peluk gue dari belakang, yang rapet badannya! Tangan satunya pegang kamera…. Nah kayak gitu. Sip!”
Evan: “Tangan gue yang kiri dipegang erat dong biar tambah lucu.”
Si Bule: “Pastinya! Oke udah siap, pasang muka serius ya…. Biar keliatan cute.”
Evan: “One… Two… Three… Done! Wah keren! Lucu banget! Haha…”

Si Bule: “Tuh kan, udah gue bilang kan? Haha…. Foto pose laen yuk bo…”
Evan: “Hyukkkk….. Capcus.”
Namanya Vany. Dia bunga kampus Psikologi UGM. Rambut tergerai panjang. Bermata lentik. Selalu ramah. Dan hidung yang… merah. Lho? Ternyata matanya pun tak jauh berbeda, berbayang merah dan berderai air mata.
Vany: “Hapeku hilang Mas! Huhu….”
Dimas: “Lho memang tadi di taruh mana toh Dek Van?” *kaget berat*
Vany: “Aku lupa Mas… Tapi kayaknya di tas. Tak cari-cari udah gak ada, huhu….”
Dimas: “Ya udah, kita coffee break dulu aja. Banyak makanan enak tuh, pasti doyan kan? Hehe.”
Vany: “Iya Mas….”
Lalu kami berdua pun mencomot makanan hotel nan lezat itu satu persatu. Ajaib! Ketika mengunyah makanan tangis Vany pun terhenti dengan sempurna. Tapi kemudian…
Vany: “Huhu….”
Dimas: “Lho kok nangis lagi Van?”
Vany: “Gak papa Mas, jadi inget hapenya lagi aja… Tapi kalo makan… Gak nangis lagi…” *berbicara dengan wajah lugunya*
Dimas: *ketawa ngakak* “Yo wis toh makan lagi aja, haha.”
Namanya Vany. Hobinya makan dan tak bisa duduk diam.

Akhirnya aku harus kembali mewawancarai Cinta Laura untuk kedua kalinya. Oh God! Kejam sekali produser aku di Chek & Bechek. Padahal aku sudah siap-siap mau berangkat interview Kiki Fatmala dengan judul The Mami Returns. Tapi tak apalah, lagi pula pasti banyak sekali penonton infotainment yang penasaran dengan berita terbaru dari the phenomenal Cinta Laura.

Blog bodoh dan gak serius ini menceritakan kehidupan tak biasa seorang mantan mahasiswa abadi yang lama mangkal di kota Jogja dan segera hijrah ke ibukota. Bercerita dari gosip infotainment yang menggugah rasa ingin tahu sampai cerita sehari-hari yang memprihatinkan dari si cowok tampan ini. Yuk mareee silahkan berselancar... Enjoy my words, jangan ada yang sakit hati ya! :D